Mitologi tentang Garuda

20 10 2010

Pilihan burung Garuda sebagai lambang Negara adalah penemuan yang cemerlang karena sudah sejak dahulu kala menghiasi kebudayaan bangsa Indonesia. Burung Garuda telah menghiasi ceritra –ceritra rakyat di berbagai daerah, juga dipergunakan dalam berbagai karya sastra. Bahkan burung Garuda pernah dijadikan lambang kerajaan beberapa abad silam. Dalam PP No.44/1958 tentang Panji dan Lambang Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara secara tegas menyatakan bahwa burung Garuda adalah burung mithos yang bersifat kedewaan. Sebenarnya ceritra tentang Garuda sudah ada dalam ceritra Mahabrata.

  1. Mitologi Garuda dalam Mahabharata

Garuda sudah termuat dalam kitab tua Mahabrata, yaitu ditulis ulang pada masa pemerintahan Dharmawangsa (991-1007) dari kerajaan Mataram. Kisah Garuda terdapat pada kitab pertama yang bernama Adiparwa.

Tersebutlah seorang raja sakti bernama Bhagawan Kasyapa, mempunyai dua orang istri yang bernama Kadru yang meminta 100 anak dan Winata yang meminta 2 anak. Kemudian Kadru diberi telur 100 dan Winata 2. Setelah beberapa lama telur Kadru menetas dan lahir berupa naga, seperti Naga Basuki, Anantabhoga, Tatsaka, dll. Lain halnya dengan Winata telurnya tidak menetas, sehingga diambil satu kemudian dipukul. Didalamnya ternyata ada seorang anak yang diberi nama Aruna, tetapi tak lama kemudian ia mati. Anak itu mengutuk ibinya, bahwa ibunya akan menjadi budak Kadru dan akan dibebaskan oleh adiknya, Garuda.

Pada suatu hari, Kadru dan Winata bertaruh tentang warna ekor dari seekor kuda putih. Menurut Kadru,warna ekor kuda itu hitam, sedangkan menurut Winata, putih. Ternyata warna ekor kuda itu memang putih, sehingga Kadru menyuruh anaknya untuk menyembur ekor kuda itu menjadi hitam. Akhirnya Winata kalah dan menjadi budak Kadru. Sementara itu Garuda lahir, dan ia langsung mencari ibunya. Atas petunjuk Dewa, ia sampai di tempat ibunya. Akan tetapi naga-naga yang menjaga ibunya meminta tebusan “Air Amerta yang disimpan di Pulau Sangkha Dwipa” untuk bisa membebaskannya. Kemudian ibunya berpesan : pergilah engkau ke sebuah pulau di tanah kusa, tempat orang-orang jahat (Nasadha), makanlah mereka sebagai bekalmu”.

Setelah itu, ia langsung menuju ke pulau di tanah kusa. Garuda sangat kesulitan untuk mengambil Air Amerta tersebut karena dijaga ketat. Namun dengan ketangkasannya, akhirnya ia berhasil mengambil kendi kamandalu yang berisi Air Amerta. Dan kendi tersebut langsung diserahkan kepada naga-naga tersebut. Akan tetapi Garuda sempat berpesan kepada para naga agar mereka mandi dulu sebelum minum Air Amerta. Mereka pun cepat-cepat masuk kedalam air sehingga mereka lupa menjaga kendi. Setelah kembali, ternyata kendi itu sudah tidak ada lagi. Yang tertinggal hanya beberapa helai daun lalang bekas pengikat kendi. Saking kesalnya, daun lalang tersebut mereka jilati sehingga lidah mereka tersayat. Konon itulah sebabnya, lidah ular bercabang dua.

Pada perjalanannya pulang, Garuda bersua dengan Batara Wisnu yang memintanya untuk menjadi kendaraan dan lambang pada benderanya. Garuda pun langsung menerimanya. Sejak itulah Garuda menjadi kendaraan Batara Wisnu dan lambang pada benderanya.

  1. Mitologi Garuda dalam Ceritra Dewi Sri

Di sebuah negeri, Purwacarita, ada seorang raja bernama Prabu Sri Mahapunggung. Ia mempunyai dua orang anak yang bernama Dewi Sri dan Raden Sadana. Mereka adalah cucu dari Batara Wisnu. Batara Wisnu memelihara seekor Garuda yang di beri nama Garuda Winanteya. Setelah anaknya menginjak dewasa, raja ingin mengawinkan Raden Sadana dengan Dewi Panitra. Tetapi putranya menolak dengan tegas. Akibatnya Raden Sadana diam-diam lari dari istana, hal ini mengejutkan rakyat Purwacarita. Dewi Sri memutuskan untuk menyusul adiknya.

Saat bersamaan, datang utusan Raja Raksasa Ditya Pulaswa dari negeri Medangkumuwung hendak meminang Dewi Sri untuk dijodohkan dengan rajanya. Raja Mahapunngung mengatakan sebenarnya, dan bila dapat menemukan anaknya ia bersedia menjodohkannya. Utusan Ditya Kaladru merasa yakin dapat menemukan Dewi Sri. Dalam perjalanan menuju Desa Tulyam, Dewi Sri menjumpai sesosok mayat yang dikira adiknya sehingga ia pingsan. Ternyata mayat itu adalah Buyut Wedana, adik Buyut Bawada. Mereka kemudian menuju desa Medangwangi. Disana mereka diserang oleh rombongan Ditya Kaladru, namun Dewi Sri dapat menyelamatkan diri bersama Ken Patani ke desa Medangwantu. Di desa ini terjadi perang antara pengikut Ditya Kaladru dengan Buyut Wengkeng.

Rombongan Kalandaru ditolong oleh burung Wilmuka. Burung Wilmuka menyarankan agar rombongan Kalandaru kembali ke Medangkumuwung menghadap raja, dan pencarian Dewi Sri dilanjutkan oleh burung Wilmuka. Akhirnya Dewi Sri ditemukan. Dia disambar dan dibawa terbang. Dewi Sri menangis meminta pertolongan, dan didengar oleh Garuda Winanteya. Dilihatnya seekor burung raksasa yang membawa Dewi Sri. Dengan paruhnya yang kuat, burung raksasa itu dipatuk sehingga Dewi Sri terlepas jatuh ke tanah sehingga badannya hancur. Namun, atas kehendak Sang Hyang Narada, jasad Dewi Sri disiram dengan tirta amerta sehingga pulih kembali. Dewi Sri mengucapkan terimakasih kepada Garuda Winanteya dan atas kehendak Sang Hyang Narada, Dewi Sri dipertemukan dengan adiknya. Atas jasanya tersebut, Dewi Sri memberi hadiah berupa anting-anting sedangkan adiknya memberi hadiah berupa jambang, dan ketika dipakai, Garuda Winanteya tampak gagah sekali. Dewi Sri akhirnya menjadi lambang Dewi Pangan yang menyebarkan rejeki kepada setiap umat manusia, sedangkan Raden Sedana menjadi Sang Hyang Sedana yang menyebarkan kebahagiaan.

  1. Mitologi Garuda dalam Kaba Rambun Pamenan

Di sebuah negeri bernama Kampungdalam, memerintah seorang bangsawan bergelar Datuk Tumanngung. Istrinya bernama Puti Lindung Bulan yang sangat cantik. Raja mempunyai dua orang anak yaitu Reno Pinang dan Rambun Pameran. Suatu hari Datuk Tumanggung sakit yang akhirnya meninggal. Rakyat merasa sangat sedih akan hal tersebut. Berita kematian Datuk Tumanggung sampai ke raja ganas yang bernama Hangek Garang dari negeri Cerminterus. Raja Hangek Garang ingin mengawini Puti Lindung Bulan. Disipakannya pasukan untuk menjemput Puti Lindung Bulan. Puti Lindung Bulan sangat terkejut sehingga tubuhnya gemetar dan terpaksa menurutiperintah raja kejam itu. Setiba di Cerminterus, Puti Lindung Bulan ditempatkan di dalam istana yang indah. Bila malam tiba, datanglah Hangek Garang merayunya, namun Puti Lindung Bulan tetap meolaknya sehingga raja marah dan membawa putri itu ke penjara dekat kandang babi. Puti Lindung Bulah hidup sangat menderita di penjara. Suatu hari ia menulis surat kepada kedua anaknya.surat itu digulung kecil dan di dalamnya diselipkan cincin, lalu dilempar keluar dan surat itu diantarkan oleh seekor Elang Bangkeh kepada anak Puti Lindung Bulan ke Kampungdalam.

Suatu hari Raden Pamenan ingin memukat di Puncak Gunung Lenggo. Karena merasa lelah dan lapar, ia duduk bersandar di bawah pohon beringin. Terdengar suara elang, yang merupakan Elang Bangkeh yang membawa surat. Surat itu dijatuhkan kepada Pamenan yang merupakan surat dari ibunya, yang menyampaikan bahwa ibunya menderita di penjara. Ia bertekad untuk mencari ibunya. Karena perjalanan jauh, ia menjadi lemah dan lapar. Kakanya mengutus Balam Timbago untuk mencari adiknya dan membawakan makanan serta obat sehingga Pamenan bisa sehat kembali. Dalam perjalanan, ia menemukan sebuah gubuk tua yang dihuni seorang kakek. Disana Pamenan tinggal beberapa hari. Kakek itu memberinya tongkat yang dapat membunuh apa saja yang menyakiti. Dalam perjalanan, ia membunuh seekor naga dengan tongkat tersebut yang ingin memangsa seekor anak garuda. Induk garuda berterima kasih dan bersedia mengantarkan Pamenan ke negeri Cerminterus. Garuda memberikan dua helai bulu kepada Pamenan yang dapat dibakar apabila Pamenan membutuhkan pertolongan. Akhirnya, sesampai di Cerminterus, Pamenan membunuh hangek garang dengan tongkat pemberian sang kakek tua. Dengan kematian Hangek Garang, raja sangat gembira dan Puti Lindung Bulan dibebaskan. Mereka diantar pulang oleh garuda ke Kampungdalam dan mereka dapat hidup bahagia.

  1. Peranan Garuda dalam Peristiwa Lainnya

Ketiga mitologi tersebut secara jelas menggambarkan peranan Garuda yang sangat besar. Di samping itu, masih ada peranan Garuda dlam berbagai peristiwa. Diantaranya raja Erlangga tersenal sebagai raja yang telah menggunakan cap kerajaan yang disebut Garudamukha yang dipakai di surat resmi, atau tulisan pada batu. Banyak juga candi-candi yang memuat lukisan Garuda seperti Candi Siwa, Candi Prambanan, Candi Dieng, candi Banon, yang melukiskan garuda sebagai kendaraan Wisnu. Selain sebagai kendaraan Wisnu, di berbagai candi, garuda dilukiskan dalam berbagai peristiwa, seperti Candi Kedaton yang reliefnya menggambarkan garuda memakan orang-orang jahat (nasadha), Candi Kidal menggambarkan Garuda membawa Tirta Kamandhalu, Candi Sukuh menggambarkan Garuda sedang memakan gajah dan kura-kura raksasa. Benda perunggu peninggalan sejarah kerajaan dulu juga banyak menempatkan burung Garuda sebagai yang dihormati. Benda-benda peradaban bangsa Indonesia banyak sekali dipengaruhi oleh garuda. Dalam kesusastraan, pujangga Indonesia dulu banyak menyebut Garuda dalam pantun dan perumpamaannya, seperti pantun Melayu. Ada kalanya Garuda disebut sebagai burung kepunyaan Dewa. Bahkan, syair-syair Garuda dipercaya mempunyai kekuatan mistik, seperti di Lombok, syair Garuda dipergunakan sebagai penangkal racun, yang disebut Garudayamantera.

Kehadiran Garuda dalam beberapa mitologi, dan simbol kerajaan, atau lukisan, serta pengaruh terhadap kesusasteraan membuktikan bahwa Garuda adlah burung yang telah dimuliakan oleh bangsa Indonesia. Garuda Pancasila adalah lambang bangsa dan negara Indonesia yang disalamnya tersimpan identitas bangsa Indonesia, di samping nila historis, sosio-budaya, dan filosofis. Bahkan dalam Garuda Pancasila tersimpan semangat juang bangsa Indonesia yang pantang menyerah dalam mencapai tujuannya.


Aksi

Information

2 responses

20 10 2010
ramlannarie

kunjungan balik ditunggu

14 04 2011
aguswirawan

makasih atas kunjungannya




%d blogger menyukai ini: